Senin, 13 Agustus 2012

CERITA PENDEK ( CERPEN ) SAHABAT KARIB


Tomi dan Feri dua sahabat karib yang mahir bermain biola. Sehari - hari sepulang sekolah, mereka mengamen di dekat sebuah restoran. Pemilik restoran diam - diam sering memperhatikan mereka. Dia ingin pengunjung restorannya dihibur oleh pemain biola anak itu.
Ia lalu menghampiri mereka. “Hm, selamat sore! Kenalkan, aku Pak Sardi. Aku sering mendengar permainan biola kalian. Kalau mau, kalian boleh bekerja di sini. Akan tetapi, satu orang saja,” kata Pak Sardi.
Tomi dan Feri gembira. Mereka tak mengira akan ditawari bekerja di restoran itu.
“Boleh, Pak! Lalu, siapa yang Bapak pilih?” tanya Feri.
“Aku belum bisa putuskan sekarang. Datanglah besok, pukul sembilan. Ingat, kalau bekerja di sini, harus bersih, rapi, dan sopan,” kata Pak Sardi.
Tomi dan Feri segera pulang. Mereka akan mempersiapkan diri untuk besok pagi.
“Fer, aku mau membeli baju baru. Mau ikut?” ajak Tomi.
“Kurasa tida, Tom. Aku akan memakai pakaian yang ada saja,” kilah Feri.
“Heh, ingat tidak, pesan Pak Sardi? Ia ingin pekerja yang rapi,” tegur Tomi.
“Ya, tetapi, bukan berarti harus memakai baju baru. Lagi pula, nanti tabunganku habis untuk beli baju baru.” kata feri lagi.
“Ah, kau ini bagaimana? Kalau sudah kerja, kan, nanti dapat uang. Lalu, kita bisa menabung lagi,” ujar Tomi. Feri tetap tidak mau. Akhirnya, Tomi pergi sendiri.
Sepeninggal Tomi, Feri juga mempersiapkan diri. Ia menyeterika bajunya yang terbaik untuk besok. Lalu, rambutnya dicukur supaya tampak rapi. Ia juga memotong kukunya.
Tomi baru pulang saat malam telah larut. Ia sudah membeli baju baru. Esok paginya, keduanya menemui Pak Sardi. Pak Sardi sudah menanti mereka di restorannya. Mula - mula, mereka disuruh memainkan lagu yang diminta Pak Sardi. “Wah, ternyata kepandaian mereka sama,” gumamnya setelah mendengar permainan mereka.
“Tes berikutnya, ulurkan tangan kalian,” pinta Pak Sardi kemudian.
Pak Sardi memeriksa jari - jari mereka satu per satu. Tomi terkejut karena ia tidak sempat memotong kukunya. Ia mengira Pak Sardi cukup yakin dengan penampilannya dalam baju baru.
Sebaliknya, Feri sangat lega karena kukunya sudah dipotong pendek dan bersih. Ia pun tidak menduga kalau memotong kuku ternyata bermanfaat.
“Wah, sayang sekali, Tom! Kuku - kukumu kotor dan tidak terawat. Sebelumnya, kan, sudah kuperingatkan, kalau aku menyukai pekerja terawat. bersih dan rapi. Dengan rambut gondrong pun tak masalah, asalkan rapi.
Jadi, aku memilih Feri untuk bekerja di sini,” kata Pak Sardi mantap.
Mendengar keputusan itu, Tomi segera meninggalkan ruang kerja Pak Sardi dengan lesu. Ternyata, rapi dan bersih yang dimaksud Pak Sardi bukanlah pakaian baru.
Tomi akhirnya kembali menjadi pemaian biola jalanan.


Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar