Kamis, 24 Mei 2012

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SD …………….. DENPASAR

  1. A.    Judul Penelitian
IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SD …………….. DENPASAR

B. Latar Belakang Masalah Penelitian
Strategi belajar mengajar merupakan suatu sistem intruksional. Kegiatan suatu sistam intruksional akan melibatkan seluruh komponen yang saling mendukung untuk mencapai tujuan. Adapun komponen-komponen yang membentuk kegiatan belajar mengajar tersebut seperti guru, media, sarana, dan prasarana, kurikulum, evaluasi,  lingkungan dan sebagainya.
Situasi yang memungkinkan terjadinya kegiatan pembelajara yang optimal adalah suatu situasi dimana siswa dapat berinteraksi dengan komponen lain secara optimal dalam rangka mencapai tujuan. Salah satu usaha yang dapat dilakukan adalah dengan memahami bagaimana siswa kita belajar, apakah prilaku menunjukan bahwa  belajar telah berlangsung pada diri siswa. Bagaimana informasi yang diperoleh dapat diproses dalam pekerjaannya, kemudian mampu dikembangkan, bagaimana informasi ini disajikan agar dapat dicerna, lama diingat serta mampu bertahan dalam pikiran siswa.
Pendidikan IPA di sekolah dasar sangat penting untuk ditanamkan kepada siswa. Rendahnya kesadaran siswa mempelajari pendidikan IPA menyebabkan kurang pahamnya siswa pada materi yang dibahas ketika mengajar. Pelajaran IPA sering dianak tirikan karena dianggap gampang dan tanpa belajarpun bisa menjawabnya. Padahal jika dipelajari, pelajaran IPA sebenarnya lebih rumit dibandingkan dengan pelajaran matematika. Yang menyebabkan pelajaran IPA lebih rumit adalah pengimplementasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti pada saat siswa melakukan praktek setruktur dan fungsi bagain tumbuhan siswa sudah melakukan tahapan praktek dengan baik tetapi hasil akhir dari kegiatan itu siswa banyak menemukan kendala di antaranya dalam menyebutkan bagian-bagain bunga sempurana.
Salah satu tujuan yang ditegaskan dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan Sekolah Dasar, diharapakan nantinya siswa memiliki kemampuan mengembangkan keterampilan proses untuk mengkaitkan pelajaran terhadap kehidupan sehari-hari, baik dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan. Berdasarkan tuntutan kurikulum tersebut diharapkan dalam proses pembelajaran IPA siswa diorientasikan dengan kehidupan nyata yang relevan dengan konsep atau kajian dalam proses pembelajaran.
Namun kenyataan masih banyak guru melaksanakan pembelajaran dengan model kovensional yang dilandasi dengan interaksi satu arah dengan dominasi metode ceramah yang bermuara pada guru sebagai subyek dalam proses pembelajaran (Teakher Centered), sehingga pembelajaran dirasakan kurang bermakna bagi siswa dan ini berpengaruh terhadap hasil belajar siswa yang cendrung rendah. Kondisi seperti ini banyak terjadi yang disebabkan olah faktor guru itu sendiri , faktor siswa maupun sarana/prasarana.
Begitu juga rendahnya hasil belajar IPA di SD No. 3 Ubung menunjukkan hasil belajar siswa yang dilihat dari hasil ulangan harian yang telah dilaksanakan secara klasikal masih cenderung rendah dengan rata-rata kelas di bawah 6,0 sedangkan KKM untuk mata pelajaran IPA adalah 70. Berdasarkan hasil refleksi diri terayata sebagian besar masalah yang terjadi diakibatkan karena dalam proses belajar mengajar guru hanya menggunakan metode pengajaran konvensional dengan metode ceramah, guru jarang memberikan apersepsi sebelum memulai pelajaran, guru tidak mengajarkan materi dengan keadaan alam sekitar, rendahnya minat belajar IPA karena orang tua siswa lebih cenderung mengajarkan anaknya pada mata pelajaran berhitung dan membaca sehingga tidak diimbangi dengan mengajarkan IPA kepada anaknya. Untuk itu penulis mencoba menerapkan model pembelajaran kontekstual untuk meningkatkan hasil belajar IPA pada siswa Kelas IV SD No. 3 Ubung tahun pelajaran 2009/2010. Karena pendekatan ini mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata.Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti termotivasi untuk mengadakan penelitian yang berjudul “ Imlementasi Pendekatan Kontekstual Untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPA Pada Siswa Kelas IV SD …………….. Denpasar”.

  1. D.    Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan permasalahan yaitu sebagai berikut.
  1. Apakah melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar IPA kelas IV di SD …………….. Denpasar?
  2. Apakah pendekatan pembelajaran kontekstual efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV di SD …………….. Denpasar?

  1. E.     Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
  1. Tujuan umum
Untuk mengetahui efektifitas Pendekatan kontekstual dalam meningkatakan keaktifan dan hasil belajar IPA di SD …………….. Denpasar.
  1. Tujuan Khusus
    1. Untuk meningkatkan keaktifan siswa melalui pendekatan kontekstual dalam belajar IPA kelas IV di SD …………….. Denpasar.
    2. Untuk meningkatkan hasil belajar IPA melalui pendekatan kontekstual siswa kelas IV di SD …………….. Denpasar.

  1. F.     Manfaat Hasil Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan melalui penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.  Bagi  siswa
Dapat memberikan pengalaman belajar yang menarik, karena siswa dilibatkan secara langsung dalam proses belajar mengajar dan mempunyai kesempatan yang banyak untuk dapat mengemukakan pendapat, tanggapan dan pertanyaan selama kegiatan berlangsung.
b.   Bagi guru
Timbulnya kesadaran untuk menumbuhkan inovasi-inovasi baru dalam pembelajaran sehingga kegiatan belajar mengajar menarik minat siswa.
c.   Bagi peneliti
peneliti untuk menambah pengetahuan dan wawasan motivasi dan prestasi belajar.
d.  Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam memperkaya model pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah yang bersangkutan.

  1. G.    Kajian Teori
1.1  Pembelajaran Kontekstual
  1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
Johson (dalam Nurhadi, 2004: 12), mengungkapkan sistem kontekstual adalah suatu proses pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik melihat makna dalam bahan yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupannya sehari-hari.
Sementara The Washington State Consortium for Contextual Teaching and Learning (dalam Nurhadi, 2004: 12), merumuskan pengajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan peserta didik memperkuat, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar di sekolah dan diluar sekolah untuk memecahkan persoalan yang ada dalam dunia nyata. Nurhadi (2004: 13) menyebutkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar pada saat guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah suatu pmbelajaran yang selalu berupaya untuk mengaitkan materi pelajaran dengan dunia nyata siswa sehingga nantinya diharapkan siswa akan dapat lebih mudah memahami materi pelajaran tersebut dan dapat memahami masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari dan sekaligus mampu memecahkan masalah tersebut dengan menerapkan materi yang telah diperolehnya di sekolah.
Dari konsep tersebut menurut Depdiknas (2005) ada tiga hal yang mesti kita pahami, antara lain.
Pertama. CTL menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi, Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkan dalam kehidupan nyata, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaiman materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Sehubungan dengan hal itu, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan CTL.
a)      Dalam CTL, pembelajaran merupakan proses pengaktifkan pengetahuan yang sudah ada (activiting knowledge),
b)      Pembelajaran kontekstual adalah belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan  baru  (acquiring knowledge).
c)      Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami.
d)     Memperaktikan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyng knowledge),
e)      Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan.

  1. Asas-asas CTL
Depdiknas dalam Hairuddin (2008) menyatakan pembelajaran kontekstual memiliki tujuh asas, yang melandasi pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual untuk pembelajaran efektif. Adapun ketujuh asas serta penjelasannya. antara lain :
  1. Konstructivisme
Contructivis merupakan langkah berpikir (filosofi) pendekatan CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep, atau kaidah yang siap diambil untuk diingat tetapi manusia harus mengkontruksi (membangun) pengetetahuan itu dan memberi makna melalui pengetahuan nyata. Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Dalam hal ini seorang guru dituntut berkreatifitas bagaimana ia dapat mengaitkan pengetahuan sebelumnya yang dimiliki siswa kedalam materi selanjutnya.
  1. Menemukan ( Inquiry)
Menemukan sendiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran CTL. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan bukan hanya dari hasil mengingat seperangkat fakta tetapi hasil itu juga diperoleh dari hasil menemukan sendiri. Seorang guru sebisa mungkin merancang pembelajaran yang mendorong anak untuk menemukan sendiri fakta ( rumus) dari hasil penemuannya dan tentu saja melalui bimbingan guru. Membiarkan murid menemukan sendiri tanpa bimbingan sama saja membiarkan sibuta berjalan tanpa arah. Namun demikian seorang guru juga harus mengetahui tingkat pengetahuan anak didiknya, sehingga inquiry dapat berjalan lancer.
  1. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seseoarang selalu  dari ‘bertanya’. Bertanya merupakan strategi guru untuk menilai kemampuan berpikir siswa. Dengan bertanya seorang guru dapat membimbing siswa kearah tujuan pembelajaran yang diinginkan. Bagi siswa bertanya merupakan langkah untuk menggali informasi dan mengkonfirmasi apa yang sudah diketahui dan mengarahkan pada aspek yang belum diketahui.
  1. Learning Community ( Kelompok Belajar)
Pada konsepnya learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerja sama dengan orang lain. Lerning community bisa terjadi jika ada komunikasi dua arah. Seorang guru yang mengajari siswanya bukan contoh learning berbagi informasi mengenai apa yang diketahui. Guru disarankan melaksanakan pembelajaran dalam kelompok belajar yang heterogen. Sehingga siswa yang pandai dapat menjadi sumber belajar bagi siswa lainnya. Namun guru juga harus merancang bahwa tidak ada siswa yang merasa bahwa dirinya lebih unggul dari siswa lainnya. Peran guru sebagai pembimbing tetap sangat diperlukan.
  1. Pemodelan ( Modelling)
Pemodelan maksudnya adalah bahwa dalam pembelajaran ada sesuatu yang dapat ditiru. Model yang dapat ditiru itu bisa berupa cara mengoprasikan sesuatu, cara melakukan sesuatu, atau cara mengerjakan sesuatu tergantung materi dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Menyuruh seorang siswa untuk menyelesaikan soal kepapan tulis dapat berarti model, atau mendatangkan seorang ahli kekelas juga dapat disebut model. Membuat model pembelajaran melaluli media yang tersedia di sekolah juga adalah suatu usaha yang dapat dilakukan guru.
  1. Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru saja dipelajari atau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah diketahui. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian , aktivitas, atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari semua itu adalah bagaimana pengetahuan itu dapat mengendap dibenak siswa. Pada akhir pelajaran guru dapat menyisakan waktu sejenak untuk mengadakan refleksi.
  1. Autentic Assesment ( Penilaian Yang Sebenarnya)
Assessment adalah proses pengumpulan data yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Hal itu dilakukan guru untuk mengetahui dan memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran yang benar. Karena data yang dikumpulkan menekankan proses pembelajaran, maka data harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa ketika melakukan proses pembelajaran. Kemajuan belajar dinilai dari proses, bukan hanya dari hasil.
1.2  Pengertian Keaktifan Belajar
Keaktifan belajar terdiri dari kata kreativitas dan kata belajar. “Keaktifan memiliki kata dasar aktif yang berarti giat dalam belajar atau berusaha” (Ratmi, 2004). Keaktifan belajar berarti suatu usaha atau kerja yang dilakukan dengan giat dalam belajar.
Ciri-ciri Keaktifan Belajar. Ada empat ciri keaktifan belajar siswa yaitu 1) Keinginan dan keberanian menampilkan perasaan, 2) Keinginan dan keberanian serta kesempatan berprestasi dalam kegiatan baik persiapan, proses dan kelanjutan belajar, 3) Penampilan berbagai usaha dan kreativitas belajar mengajar dalam menjalani dan menyelesaikan kegiatan belajar mengajar sampai mencapai keberhasilannya, 4) Kebebasan dan kekeluasaan melakukan hal tersebut di atas tanpa tekanan guru atau pihak lain
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar, Mengenai faktor-faktor yang berkontribusi terhadap hasil belajar, Nana Sudjana (dalam Ratmi,04) menyatakan bahwa ada lima hal yang mempengaruhi keaktifan belajar, yakni: 1) stimulus belajar, 2) perhatian dan motivasi, 3) respon yang dipelajarinya,4) penguatan, 5) pemakaian dan pemindahan
Guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif. Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.” Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri.
1.3 Pengertian IPA
IPA (Sains) berupaya membangkitkan minat manusia agar mau meningkatkan kecerdasan dan pemahamannya tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia yang tak habis-habisnya. Dengan tersingkapnya tabir rahasia alam itu satu persatu, serta mengalirnya informasi yang dihasilkannya, jangkauan Sains semakin luas dan lahirlah sifat terapannya, yaitu teknologi adalah lebar. Namun dari waktu jarak tersebut semakin lama semakin sempit, sehingga semboyan ” Sains hari ini adalah teknologi hari esok” merupakan semboyan yang berkali-kali dibuktikan oleh sejarah. Bahkan kini Sains dan teknologi manunggal menjadi budaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling mengisi (komplementer), ibarat mata uang, yaitu satu sisinya mengandung hakikat Sains (the nature of Science) dan sisi yang lainnya mengandung makna teknologi (the meaning of technology).
IPA membahas tentang gejala-gejala alam yang disusun secara sistematis yang didasarkan pada hasil percobaan dan pengamatan yang dilakukan oleh manusia. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Powler (dalam Wina-putra, 1992:122) bahwa IPA merupakan ilmu yang berhubungan dengan gejala-gejala alam dan kebendaan yang sistematis yang tersusun secara teratur, berlaku umum yang berupa kumpulan dari hasil obervasi dan eksperimen.Mata pelajaran ini pula di gunakan dalam UN dan UASBN
Sains adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai Obyek, menggunakan metode Ilmiah sehingga perlu diajarkan di Sekolah Dasar. Setiap guru harus paham akan alasan mengapa sains perlu diajarkan di sekolah dasar. Ada berbagai alasan yang menyebabkan satu mata pelajaran itu dimasuk ke dalam kurikulum suatu sekolah. Usman Samatowa (2006) menegemukakan empat Alasan sains dimasukan dikurikulum Sekolah Dasar yaitu:
  • Bahwa sains berfaedah bagi suatu bangsa, kesejahteraan materil suatu bangsa banyak sekali tergantung pada kemampuan bangsa itu dalam bidang sains, sebab sains merupakan dasar teknologi, sering disebut-sebut sebagai tulang punggung pembangunan. Pengetahuan dasar untuk teknologi ialah sains. Orang tidak menjadi Insinyur elektronika yang baik, atau dokter yang baik, tanpa dasar yang cukup luas mengenai berbagai gejala alam.
  • Bila diajarkan sains menurut cara yang tepat, maka sains merupakan suatu mata pelajaran yang memberikan kesempatan berpikir kritis; misalnya sains diajarkan dengan mengikuti metode “menemukan sendiri”. Dengan ini anak dihadapkan pada suatu masalah; umpamanya dapat dikemukakan suatu masalah demikian”. Dapatkah tumbuhan hidup tanpa daun?” Anak diminta untuk mencari dan menyelidiki hal ini.
  • Bila sains diajarkan melalui percobaan-percobaan yang dilakukan sendiri oleh anak. maka sains tidaklah merupakan mata pelajaran yang bersifat hafalan belaka.
  • Mata pelajaran ini mempunyai nilai-nilai pendidikan yaitu mempunyai potensi yang dapat membentuk keprbadian anak secara keseluruhan.
Dorongan ingin tahu telah terbentuk secara kodrati mendorong manusia mengagumi dan mempercayai adanya keterampilan pada alam. Hal ini mendorong munculnya sekelompok orang berfikir. Pemikiran dilakukan secara terpola sehingga dipahami oleh orang lain. Dorongan ingin tahu meningkat untuk mencari kepuasan dan penggunaannya. Penemuan yang dapat diuji kebenarannya oleh orang lain dapat diterima secara universal. Dengan demikian dari pengetahuan akan berkembang menjadi ilmu pengetahuan. Perolehan yang didapat melalui percobaan, didukung oleh fakta menggunakan metode berfikir secara sistematis dapat diterima sebagai ilmu pengetahuan yang selanjutnya disebut produk, sedangkan langkah-langkah dilakukan merupakan suatu proses. Langkahlangkah atau proses ditempuh dalam mengembangkan ilmu menjadi cara atau metode memungkinkan berkembangnya pengetahuan. Ada hubungan antara fakta dan gagasan. Pola memecahkan masalah dengan menggunakan metode ilmiah dianut orang secara umum. Orang yang terbiasa menggunakan metode ilmiah berarti mempunyai sikap ilmiah. (Wahyana, 1977 : 291-293)
Menurut Hendro Darmodjo dan Kaligis (1991 : 3-5) IPA dapat dipandang sebagai suatu proses dari upaya manusia untuk memahami berbagai gejala alam. Untuk itu diperlukan cara tertentu yang sifatnya analisis, cermat, lengkap dan menghubungkan gejala alam yang satu dengan gejala alam yang lain. IPA dapat dipandang sebagai suatu produk dari upaya manusia memahami berbagai gejala alam. IPA dapat pula dipandang sebagai fakta yang menyebabkan sikap dan pandangan yang mitologis menjadi sudut pandang ilmiah. Mata pelajaran IPA adalah program untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai ilmiah pada siswa serta rasa mencintai dan menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa. Pelajaran IPA tidak semata-mata memberi pengetahuan tentang IPA pada siswa, tetapi juga ikut membina kepribadian anak.
Mata pelajaran IPA berfungsi untuk :
a.   Memberi pengetahuan tentang berbagai jenis dan lingkungan alam dan lingkungan dalam kaitan dengan manfaatnya bagi kehidupan seharihari.
b.   Mengembangkan keterampilan proses.
c.   Mengembangkan wawasan sikap dan nilai yang berguna bagi siswa untuk meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari.
d.   Mengembangkan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara kemajuan IPA dan teknologi.
Mengembangkan kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan teknologi (IPTEK) serta keterampilan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari maupun untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. (Depdikbut,1997:87) Hal yang penting diperhatikan guru dalam pembelajaran IPA adalah berusaha agar siswa ikut aktif dalam proses pembelajaran. Pendidikan di SD disesuaikan dengan tingkat perkembangan mental anak, artinya dengan tingkat kemampuan berfikir anak. Pikiran anak masih terbatas pada obyek disekitar lingkungan. Pada tingkat ini anak dapat mengenal bagian-bagian dari benda-benda seperti berat, warna dan bentuknya. Kemampuan yang dikembangkan adalah menggolongkan dengan berbagai cara, menyusun dan merangkai berurutan, melakukan proses berfikir kebalikan, melakukan operasi matematika, seperti menambah, mengurangi dan mengalikan. Anak SD sudah mampu mengklasifikasikan bagian-bagian, struktur dan fungsi. Dia berfikir kebalikan misalnya merpati termasuk burung, burung itu bertelur maka anak dapat menyimpulkan bahwa merpati dapat bertelur. Anak belum dapat berfikir abstrak tetapi ia dapat membuat hipotesis sederhana. (Wahyana, 1997 : 298) Ruang lingkup IPA di SD mencangkup mahluk hidup dan proses kehidupannya, materi sifat-sifat dan keghunaannya, kesehatan dan makanan, penyakit dan pemecahannya, membudayakan alam dan kegunaannya, pemeliharaan dan pelestariannya.


1.4 Hasil Belajar
  1. Pengertian Hasil Belajar
Menurut Gagne (dalani Koyan, 2008: 28), hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar dan dapat diamati melalui penampilan siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Nana Sudjana (1999 : 22), menyatakan hasil belajar adalah kemamuan-kemamuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajar.
Menurut Safari, dkk, (2004,8), menjelaskan bahwa yang disebut dengan hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh siswa setelah berakhirnya proses pembelajaran. Tujuan dari hasil belajar ini bagi siswa adalah sebagai butir-butir otentik, akurat dan konsisten. Tujuan secara umum, untuk memberikan penghargaan terhadap pencapaian belajar siswa dalam rnemperbaiki program kegiatan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas siswa dan guru terhadap pencapaian kompetensi yang telah ditetapkan.
Menurut Aristo Rahadi (2003: 4) yang disebut dengan hasil belajar ialah basil dari kegiatan yang berupa perubahan prilaku yang relatife permanen pada diri orang (siswa) yang belajar.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa sebagai akibat perbuatan belajar sehingga terjadi perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri seseorang.
  1. Ciri-Ciri Hasil Belajar
Dimyati dan Moedjiono (1994 : 170) mengatakan, “belajar dapat dilakukan di sembarang tempat, kondisi dan waktu. Cepatnya informasi lewat radio, televisi, film, surat kabar, majalah dapat mempermudah belajar”. Sedangkan Piaget (dalam Dimyati dan Moedjiono, 1994:35)”memandang belajar sebagai perilaku berinteraksi antar individu dengan lingkungan sehingga terjadi perkembangan intelektual individu”.
Tabrani Rusyan (1993:1) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai oleh adanya perubahan pada diri seseorang sebagai hasil dan pengalaman dan latihan. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditimbulkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan,sikap,tingkah laku, dan kecakapan serta kemampuan.
Sumardi Suryabrata (1984: 249) mengemukakan ciri-ciri hasil belajar yaitu 1) belajar merupakan suatu proses yang berlanjut dari sejak lahir dan terus berlangsung seumur hidup, 2) belajar tnenghasilkan perubahan, 3) dari belajar didapatkan kecakapan baru, 4) perubahan yang terjadi dalam belajar karena usaha.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas bias dikemukakan bahwa ciri-ciri hasil belajar melibatkan perolehan kemampuan yang bukan merupakan bawaan sejak lahir. Belajar tergantung pada pengalaman, sebagian dari pengalaman itu merupakan uinpan balik dari lingkungan. Belajar berlangsung karena usaha sadar dan sengaja untuk memperoleh kecakapan baru dan membawa perbaikan pada ranah kogntif,afektif,dan psikomotor.
  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut M. Ngalim Purwanto ( 1987 ; 111 ) bahwa mengelompokan factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menjadi dua kelompok yaitu : factor dalam diri siswa yang terdiri atas factor fisiologis ( kondisi fisik, panca indra ) dan factor psikologis ( minat, bakat, kecerdasan, motivasi dan kognitif ) factor dari luar diri yang terdiri dari factor lingkungan ( alam dan sosial ) serta factor instrumental ( kurikulum, sarana, fasilitas dan guru ).
Pendapat diatas sejalan dengan pendapat Sumadi Suryabrata ( 1995 ; 249 ) yang menyatakan bahwa “factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar dapat digolongkan menjadi dua yakni factor luar dan factor dalam diri siswa.
Muhamad Ali ( 1992 ; 5 ) mengatakan bahwa “factor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah factor guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan”. Keempat factor tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Faktor guru Setiap guru memiliki pola mengajar sendiri-sendiri. Pola mengajar ini tercermin dalam tingkah laku pada waktu mengajar atau melangsungkan pengajaran. Gaya mengajar yang dilakukan guru mencerminkan bagaimana pelaksanaan pengajaran guru bersangkutan, yang dipengaruhi oleh pandangannya sendiri tentang mengajar, konsep, psikologis dan kurikulum.
  2. Faktor siswa Setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kecakapan yang dimiliki masing-masing itu meliputi kecakapan potensial, dari dalam diri anak maupun kecakapan yang diperoleh dari hasil belajar.
  3. Faktor kurikulum Bahan-bahan pengajaran sebagai isi kurikulum mengacu pada tujuan yang hendak dicapai.
  4. Faktor lingkungan Lingkungan meliputi keadaan ruangan, tata ruang dan berbagai situasi fisik yang ada disekitar kelas atau sekitar tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, keluarga dan masyarakat.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa factor yang mempengaruhi hasil belajar adalah factor guru, siswa kurikulum dan lingkungan.
1.5  Hipotesis Penelitian
  1. Melalui pendekatan kontekstual dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam belajar IPA kelas IV di SD …………….. Denpasar.
  2. pendekatan pembelajaran kontekstual efektif untuk meningkatkan hasil belajar IPA kelas IV di SD …………….. Denpasar.

  1. H.    Metode Penelitian
1.1 Jenis  Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK)/ classroom action research. Secara singkat penelitian tindakan kelas dapat didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflekstif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukannya itu. Serta memperbaiki kondisi dimana praktek-praktek pembelajaran itu dilakaukan (Tim Proyek PGSM, 1999: 6). Menurut Suyanto dkk,(1997: 4), penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara profesional.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu untuk meningkatkan kemantapan rasional pelaku tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan itu, serta memperbaiki dan meningkatkan praktek-praktek pembelajaran di kelas secara rasional.
Ada beberapa penelitian tindakan menurut Oja dan Semulyan (dalam Suyanto dkk, 1997: 17) membedakan adanya empat bentuk penelitian tindakan yaitu: (1) guru sebagai peneliti, (2) penelitian tindakan kolaboratif, (3) simultan-terintegrasi, (4) administrasai social eksperimental.  Adapun rancangan dari penelitian tindakan kelas yaitu: (1) Perencanaan, (2) Pelaksanan, (3) observasi awal, (4) refleksi.
1.2  Setting dan subjek Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitian ini dirancang dengan desain penelitian observasi yang mempunyai jumlah siswa 40 anak yang terdiri dari 18 siswa putra dan 22 siswa putrid di SD ………………
1.3  Rancangan Penelitian
Dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan  sebanyak dua siklus dengan masing-masing siklus dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan dan 1 kali evaluasi. Pelaksanaan masing-masing siklus, yaitu: (1) observasi awal (2) perencanaan, (3) Pelaksanaan, (4) evaluasi, dan (5) refleksi. Adapun rancangan tahapan penelitian tersaji seperti gambar berikut:





Observasi Awal
Pelaksanaan
Evaluasi
Refleksi
Perencanaan










Gambar Rancangan Penelitian Tindakan Kelas

a.   Perencanaan adalah serangkaian tindakan terencana untuk meningkatkan apa yang telah terjadi (Sukardi, 2008:213). Dalam perencanaan perlu dipersiapkan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa .
b.   Pelaksanaan tindakan merupakan suatu tindakan yang dilakukan oleh guru atau peneliti sebagai upaya perbaikan, peningkatan atau perubahan yang diinginkan (Kanca, 2006:111). Tindakan dalam penelitian harus hati-hati dan merupakan kegiatan praktis yang terencana.
c.   Evaluasi merupakan suatu cara untuk mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau ditekankan terhadap siswa (Kanca, 2006:111). Fungsi observasi adalah untuk mendokumentasi implikasi tindakan yang diberikan kepada subjek.
d.   Refleksi merupakan suatu upaya mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan atas hasil atau dampak dari tindakan dari berbagai kriteria (Kanca, 2006:111). Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat melakukan revisi perbaikan terhadap rencana awal.
1.4. Siklus I
a.   Perencanaan
Berdasarkan hasil observasi awal, maka peneliti menyusun alternative pemecahan masalah yang telah teridentifikasi sebagai berikut :
1.   Menerangkan terlebih dahulu setruktur akar dan fungsi bagian tumbuhan dengan disertakan gambar dan contoh yang kongrit.
2.   Menyusun rencana pembelajaran dengan mengoptimalkan waktu, sarana dan prasarana yang bersifat seefektif mungkin.
3.   Menyiapkan instrument atau alat evaluasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa.
4.   Melakukan pembelajaran dengan mengunakan pendekatan kontekstual sesuai setting atau pola pembelajaran yang diterapkan
b.   Pelaksanaan tindakan
Penelitian dilaksanakan dalam 4 jam pelajaran yang terdiri dari 2 pertemuan. Masing-masing pertemuan disusun dalam satu rencana pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual. Adapun langkah-langkah penelitian yang ditempuh pada setiap siklus dapat dijelaskan sebagai berikut:

Mata Pelajaran               : Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas/Semester               : IV/I
Alokasi waktu                : 2 x 35 menit
Setandar Kompetensi    : Memahami hubungan antara struktur bagian                    tumbuhan dan fungsinya
Kompetensi Dasar          :   Menjelaskan hubungan antara struktur                             tumbuhan dengan fungsinya
Indikator                        : 1. Menyebutkan fungsi akar bagi tumbuhan                     2. Menyebutkan bagian-bagian akar dan fungsinya
Tujuan Pembelajaran   :  1. Siswa dapat mengamati akar tumbuhan                             yang ada di sekitar
2. Siswa dapat memahami tentang bagian-                           bagain akar dan fungsi serta jenisnya.
Materi Pokok              : Setruktur dan fungsi bagian tumbuhan.
Metode Pembelajaran : Pengamatan, tanya jawab, diskusi, ceramah
Langkah-langkah Pembelajaran
a. Kegiatan Awal (± 15 Menit)
1. Mengucapkan salam , mengkondisikan kelas dan mengabsensi siswa
2. Guru menunjukan gamabar tentang pohon yang ada di sekitar sekolah
3. Guru mengajukan pertanyaan pada siswa
4. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
b. Kegiatan Inti (± 65 Menit)
Pertemuan I
1. Eksplorasi
-     Peneliti mengarahkan siswa memperhatikan beberapa contoh gambar tumbuhan-yubuhan yang ada di sekitar lingkungan sekolah
-     Peneliti memberikan penjelasan singkat mengenai setruktur akar dan fungsinya
2. Elaborasi
-     Siswa dibentuk untuk menjadi beberapa kelompok
-     Guru membagikan lembar kerja siswa pada masing masing kelompok
-     Siswa ditugasi untuk berdiskusi dengan kelompok untuk mengidentifikasi bagian-bagian akar yang terdapat dalam gambar dan fungsinya
-     Siswa menuliskan jawaban berdasarkan jawaban yang ditemukan dari sumber belajar dan hasil diskusi pada lembar kerja siswa.
4. Konfirmasi
-     Perwakilan masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi yang mereka lakukan
-     Peneliti dan siswa secara bersama-sama membahas jawaban yang disampaikan masing-masing kelompok
-     Peneliti dan siswa secara bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan
c. Kegiatan akhir (± 30 Menit)
-     Peneliti memberikan evaluasi pada siswa dengan memberikan pertanyaan sebagai umpan balik
-     Peneliti Memberi penegasan tentang manfaat akar dan fungsinya bagi tumbuhan
-     Peneliti Memberikan tugas rumah
Pertemuan II
1. Eksplorasi
-      Peneliti menginformasikan mengenai materi yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dan memberikan kesempatan untuk bertanya.
-     Peneliti bertanya kepada siswa berkaitan dengan kesulittan-kesulitan yang ditemukan pada pertemuan sebelumnya dan siswa dalam kelompoknya diberikan kesempatan untuk bertanya.
2. Elaborasi
-     Siswa dibentuk untuk menjadi beberapa kelompok
-     Guru membagikan lembar kerja siswa pada masing masing kelompok
-     Siswa ditugasi untuk mengamati dan berdiskusi dengan kelompok untuk mengidentifikasi bagian-bagian akar tumbuhan yang ada di sekitar kebun sekolah
-     Siswa menuliskan jawaban berdasarkan jawaban yang ditemukan dari lapangan, sumber belajar dan hasil diskusi pada lembar kerja siswa.
4. Konfirmasi
-     Perwakilan masing-masing kelompok membacakan hasil diskusi yang mereka lakukan
-     Peneliti dan siswa secara bersama-sama membahas jawaban yang disampaikan masing-masing kelompok
-     Peneliti dan siswa secara bersama-sama menyimpulkan hasil pembelajaran yang telah dilakukan
c. Kegiatan akhir
-     Peneliti memberikan evaluasi pada siswa dengan memberikan pertanyaan sebagai umpan balik
-     Peneliti Memberi penegasan tentang manfaat akar dan fungsinya bagi tumbuhan
-     Peneliti Memberikan tugas rumah

  1. Observasi/Evaluasi
Untuk mengetahui proses dan hasil dari tindakan pada siklus I yang dilaksanakan pada siswa, maka dilakukan evaluasi. Evaluasi ini dilaksanakan dengan menggunakan lembar kerja siswa (LKS)

  1. Refleksi
Setelah observasi dan evaluasi dilaksanakan, peneliti mengkaji, melihat, mempertimbangkan dampak dari tindakan yang diberikan dan mendiskusikan kekurangan dan hambatan dalam pembelajaran pada siklus I. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat mengetahui hasil belajar siswa, kekurangan dan hambatan siswa. Apabila belum tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kriteria sekolah yaitu penguasaan meteri IPA 80% seacara klasikal, maka akan direncanakan suatu alternative pemecahan masalah tersebut pada siklis II.


1.5 Siklus II
Berdasarkan refleksi dari siklus I, maka disusun perencanaan pembelajaran untuk menuntaskan hasil pembelajaran pada siklus II sebagai berikut.
  1.          Perencanaan
    1. Membuat perencanaan pembelajaran sesuai dengan pokok bahasan struktur dan fungsi bagian tumbuhan.
    2. Menyiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
    3. Menyiapkan sarana dan prasarana yang akan digunakan.
    4. Menyiapkan instrument observasi/evaluasi

  1. Pelaksanaan
Menyiapkan tindakan pada siklus II ini berdasarkan hasil evaluasi/refleksi pada siklus I yang penekanannya pada perbaikan dari kekurangan-kekurangan dilihat dari proses dan hasil belajar siswa dalam memahami materi struktur bunga dan fungsi bagian tumbuhan pada siklus I.

  1.   Observasi/evaluasi
Prosedur pelaksanaan observasi/evaluasi pada siklus II sama dengan prosedur pelaksanaan observasi/evaluasi pada siklus I.

  1. Refleksi
Setelah observasi/evaluasi dilakukan, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan dampak dari tindakan yang diberikan pada siklus II.

1.4 Pengumpulan Data
Data diambil dari: hasil laporan perencanaan sampai pada presentasi pada siklus I dan II, catatan dari penulis dan dibantu hasil observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Hasil dari data tersebut, kemudian dianalisis untuk mendapatkan data peningkatan keaktifan belajar dan hasil belajar siswa kelas IV SD 3 Ubung.
Data yang diharapkan dalam penelitian adalah data kuantitatif (data angka-angka), berupa hasil tes yang berhubungan dengan  penerapan pendekatan kontekstual dengan media LKS untuk meningkatkan keaktifan dan hasil belajar pada pelajaran IPA kelas IV SD …………….. Denpasar.
Suharsimi (1991:67) dan Hadi (1996:43), menyatakan bahwa “Metode pengumpulan data adalah cara peneliti menentukan metode setepat-tepatnya untuk memperoleh data”. Lebih lanjut, Arikunto (1999:17) menyebutkan bahwa. “Di dalam dunia penelitian dikenal beberapa metode pengumpulan data, angket atau kuisioner, wawancara, dokumentasi atau dengan observasi biasa, koleksi dan eksperimen atau metode lainnya atau kombinasi dari beberapa metode tadi”. Dalam hal ini, perlu dicatat bahwa suatu metode dipilih dengan memperhatikan kesesuaiannya dengan objek studi, sehingga kecendrungan menempuh jalan yang selayaknya menyesuaikan dengan bahan penelitian. Dalam penelitian ini, data penelitian dikumpulkan dengan metode tes sebagai metode utama dan metode pencatatan dokumen sebagai metode pelengkap (sekunder). Kedua metode tersebut diuraikan berikut ini.
1.5 Analisis Data
Pada dasarnya dalam penelitian tindakan proses analisis data sudah dilakukan sebelum program tindakan tersebut dilakukan, sehingga analisis data berlangsung dari awal sampai akhir pelaksanaan program tindakan. Berkaitan dengan konsepsi tersebut, data dalam penelitian ini pun dianalisis dengan mengikuti pola analisis penelitian tindakan, yaitu mulai dari tahap berakhirnya seluruh program tindakan sesuai dengan karakteristik fokus permasalahan dan tujuan penelitian. Data yang menunjukkan dinamika proses dianlaisis dengan analisis kontekstual dan analisis yang diikuti argumentasi kualitatif untuk mendeskripsikan kebermaknaan dari hasil penelitian. Data yang menunjukkan dinamika proses yang dianalisis secara kualitatif meliputi: unjuk kerja guru, aktivitas belajar siswa, pola interaksi belajar mengajar, pendapat guru dan respon siswa dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA di kelas IV SD ………………
Secara rinci prosedur pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut.


  1. Pengumpulan, kodifikasi, dan katagorisasi data
Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan seluruh data yang telah diperoleh berdasarkan instrumen penelitian. Data-data tersebut kemudian diberikan kode-kode tertentu berdasarkan jenis dan sumbernya. Untuk memudahkan dalam penyusunan katagorisasi data perumusan sejumlah hipotesis mengenai rencana dan hasil program tidakan sesuai dengan tujuan penelitian, selanjutnya peneliti melakukan interpretasi terhadap data peneliti.
  1. Validasi data
Hasil interpretasi data dan katagori data serta rumusan hipotesis sehubungan dengan hasil program pelaksanaan tindakan divalidasi. Ini dilakukan untuk mendapatkan data yang benar-benar mendukung dan sesuai dengan karakteristik fokus permasalahan dan tujuan penelitian.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis statistic deskriptif.
Untuk mengetahui kualitas belajar siswa dalam proses pembelajaran, maka data hasil observasi yang berupa skor diolah dengan menggunakan rumus :
(n1 x 1) + (n2 x 2) + (n3 x 3) + (n4 x 4) + (n5 x 5)
Skor (X) =
(banyaknya siswa) x (banyaknya item)
(Sadra, dkk, 1996 : 42 dalam Suandi, 2003 : 35)
Keterangan :
n1 = banyaknya siswa yang mendapatkan skor ke 1 (untuk 1 = 1, 2, 3, 4, 5),
kemudian hasilnya dibandingkan dengan kriteria seperti tabel 1.1
Kriteria Aktivitas Belajar Siswa
Skor
Kriteria
X ≥ M1 + 1,5 SD1
Sangat Senang
M1 + 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 1,5 SD1
Senang
M1 – 0,5 SD1 < X ≤ M1 + 0,5 SD1
Cukup senang
M1 – 0,5 SD1 < X ≤ M1 – 0,5 SD1
Kurang senang
X < M1 – 1,5 SD1
Sangat kurang senang
(Nurkancana dan Sunartana, 1992 dalam Suandi, 2003 : 35)
Rumusan untuk M1 dan SD1 adalah :
M1       = ½ (skor tertinggi ideal + skor terendah ideal)
SD1      = 1/6 (skor tertinggi ideal – skor terendah ideal)
(Nurkancana dan Sunartana, 1992)
Untuk aktivitas belajar siswa skor tertinggi ideal dan skor terendah ideal adalah 5 dan 1. Dengan demikian dapat dihitung mean ideal (M­1) dan standar deviasi ideal (SD1) yaitu :
M1       = ½ (5 + 1) = ½ . 6 = 3, dan
SD1      = 1/6 (5 – 1) = 1/6 . 4 = 0,67
Sehingga penggolongan aktivitas belajar siswa di atas menjadi seperti tabel 1.2
Kriteria Aktivitas Belajar Siswa
Skor
Kriteria
X ≥ 4,005
Sangat Aktif
3,335 < X ≤ 4,005
Aktif
2,665 < X ≤ 3,335
Cukup Aktif
1,995 < X ≤ 2,665
Kurang Aktif
X < 1,995
Sangat kurang Aktif
(Nurkancana dan Sunartana, dalam Suandi, 2003 : 36)
Kriteria keberhasilan tindakan yang dilakukan dilihat dari peningkatan aktivitas belajar siswa klasikal terhadap seluruh aspek yang diamati secara menyeluruh. Dari seluruh skor mentah didalam proses pembelajaran IPA. Penelitian ini akan berhasil jika tingkat aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar minimal mencapai katagori cukup aktif.
Untuk mengetahui hasil belajar siswa, hasil tes belajar dianalisis secara deskriptif, yaitu dengan menentukan skor rata-rata hasil tes (M) dan ketuntasan klasikal (KK) dengan rumus :
ΣX
M         =
N
Keteangan :
M         = skor rata-rata
ΣX       = jumlah total skor siswa
N         = jumlah siswa
Banyaknya siswa yang memperoleh nilai ≥ 65
KK      =                                                                                              X 100%
Banyaknya siswa yang ikut tes
(Kurikulum Pendidikan Dasar SD, 2006)
Pedoman yang dipakai untuk menafsirkan terhadap hasil belajar siswa adalah berdasarkan Kurikulum Pendidikan Dasar untuk Sekolah Dasar tahun 2006 yaitu hasil belajar siswa telah optimal apabila rata-rata kelas dan ketuntasan klasikal minimal 65 dan 85%. Selain melihat peningkatan hasil belajar secara klasikal, juga dilihat peningkatan, penurunan, dan hasil belajar tetap siswa. Dimana dapat dilihat berapa persen siswa yang mengalami peningkatan, penurunan, dan hasil belajar siswa tetap. Dimana akan dilihat berapa persen siswa yang mengalami penurunan hasil belajar dari masing-masing siklus.
I.  Jadwal Waktu Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan pada semester pertama tahun pelajaran 2010/2011 selama tiga bulan. Satu minggu untuk persiapan dan penjajagan, delapan minggu untuk pembelajaran dan tiga minggu untuk perencanaan dan pembuatan laporan. Seluruh kegiatan dimulai minggu terakhir Agustus sampai dengan bulan Oktober 2010.
Tabel: Jadwal Rencana Penelitian Tindakan Kelas IV SD ………………
No
Rencana Kegiatan
Waktu Pelaksanaan
Agustus
September
Oktober
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Perencanaan
  1. Studi lapangan
  2. Menyusun Proposal
  3. UJi coba instrumen
  Ö  
Ö
 

Ö
 


               
2 Pelaksanaan
  1. Tindakan Siklus I
  2. Tindakan Siklus II
        Ö   Ö   Ö  
Ö
 
Ö
 
Ö
     
3 Penyusunan Laporan                   Ö Ö  
4 Pelaporan                       Ö










Daftar pustaka

Ali Muhammad. 1983. Guru dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Anonim. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka
Arikunto, Suharsimi. 2008. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.  Jakarta : Rineka Cipta
Darmodjo, Hendro Kaligis. 1991. Pendidikan IPA II. Jakarta : Departeman P dan K Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Tenaga Kerja.
Djajadisastra, J. 1982. Metode-metode Mengajar. Bandung: Angkasa.
Dahar, R. W. 1989. Teori-teori Belajar. Bandung: Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional.2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi (Draf juni 2002). Jakarta: Balitbang Depdikbud.
Herrhyanto, Nar. 2003. Statistika Dasar. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Kertiasa Hadiat d. Padmawinata. 1981. Dasar-Dasar Pendidikan Sains penerbit bhratara karya aksara-jakarta.
Mahardono, Pratignyo, iskandar. 1981. Tumbuhan Dikotil. Jakarta : PT Intermasa.
Sugiyono. 2010. Statistika Untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta
Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Dan Pengembangan. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Winataputra, dkk. 1996. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Wardani, dkk. 2003. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Winataputra, Udin S, dkk. 2007. Teori Belajar Dan Pembelajran. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
http://sitimasrurohum.blogspot.com/2010/01/pengaruh-penggunaan pembelajaran.html
http://jayalaksana.wordpress.com/2009/12/10/pembelajaran-konstektual

IMPLEMENTASI PENDEKATAN KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA PADA SISWA KELAS IV SD …………….. DENPASAR












OLEH
Putu Eddy Murdiana Putra
NIM  0811035102




PROGRAM STUDI S-1 PGSD ALIH KREDIT
JURUSAN PENDIDIKAN DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA
SINGARAJA
2010
PROPOSAL

DIAJUKAN UNTUK MELENGKAPI TUGAS-TUGAS DAN
MEMENUHI SYARAT-SYARAT UNTUK MENCAPAI
GELAR SARJANA PENDIDIKAN









Menyetujui,
         Pembimbing I,                                                       Pembimbing II,



Dra. Siti Zulaikha, M.Pd                  Drs. DB. Kt. Ngr. Semara Putra, S.Pd, M.FOr
NIP. 19500113 197503 2 001            NIP. 19580509 198503 1 002

Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar