Rabu, 30 Mei 2012

Perkembangan Intelektual Remaja


Perkembangan Intelektual Remaja
Transisi ke Masa Remaja
Masa remaja memiliki sifat kontinuitas dan diskontinuitas dengan masa kanak-kanak. Salah satu bentuk kontinuitasnya adalah gen yang diwariskan orang tua masih mempengaruhi pemikiran dan perilaku remaja, tetapi pada masa remaja, gen berinteraksi dengan kondisi sosial dunia remaja seperti keluarga, teman sebaya, persahabatan, pengalaman bersekolah, dll. (Santrock, 1995). Kemudian, bentuk diskontinuitas masa remaja dengan anak-anak terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat individu, khususnya pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka (Hurlock, 1980). Jika pada masa kanak-kanak kita dapat mengamati seorang anak memperlihatkan bentuk emosi kepada perilaku nampak (merengek, marah, dll.), di masa remaja kita akan melihat individu meluapkan emosinya dengan perilaku yang berbeda dari masa kanak-kanaknya seperti menggerutu, mengalihkan emosi dengan bercerita pada teman sebaya, dll.
Pemikiran individu pada saat mereka masuk ke dalam tahap perkembangan remaja menjadi semakin abstrak, logis dan idealistis. Remaja lebih mampu menguji pemikiran diri mereka sendiri maupun orang lain dan apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang diri mereka serta cenderung menginterpretasikan dan memantau dunia sosial. Satu hal yang pasti tentang aspek psikologis dari perubahan fisik remaja adalah bahwa remaja disibukkan dengan tubuh mereka dan mengembangkan citra individual mengenai gambaran tubuh mereka. Kemudian, hal yang perlu kita ingat adalah dunia seorang anak remaja meliputi perubahan social, kognitif dan perubahan fisik. Sama seperti semua periode perkembangan, proses-proses ini bekerja bersama untuk menghasilkan siapa kita dimasa remaja (Block, 1992; Eccles & Buchanan, 1992).
Pemikiran Operasional Formal
Pemikiran operasional formal merupakan salah satu perubahan yang membedakan antara remaja dengan anak-anak. Pemikiran operasional formal ini berlangsung pada usia sekitar 11 sampai dengan 15 tahun. Ciri khas dari pemikiran ini adalah bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Dengan pemikiran operasional formal, remaja dapat membangkitkan situasi khayalan, kemungkinan hipotesis dan penalaran yang benar-benar abstrak. Selain berpikir abstrak, remaja juga berpikir idealistis. Remaja berpikir tentang ciri-ciri ideal bagi mereka sendiri maupun orang lain serta  membandingkan diri mereka dengan orang lain. Bila pada masa kanak-kanak, kita hanya melihat bahwa anak-anak lebih berpikir tentang sesuatu yang nyata dan terbatas. Sehingga tidak heran bila remaja menjadi tidak sabar dan lebih sering berfantasi tentang sesuatu yang mengarah ke masa depan. Disaat bersamaan, remaja juga berpikir secara logis (Kuhn, 1991). Remaja mulai berpikir layaknya ilmuwan; memecahkan masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama penalaran deduktif hipotesis. Penalaran deduktif hipotesis adalah konsep operasional Piaget—menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif untuk mengembangkan hipotesis (dugaan terbaik) mengenai cara memecahkan masalah. Setelah itu, mereka menarik kesimpulan secara sistematis dan menetapkan cara mana yang paling tepat untuk memecahkan masalah tersebut. Namun pemikiran operasional formal yang selama ini dikembangkan Piaget, baru-baru ini ditentang oleh beberapa ilmuwan (Byrnes, 1988; Danner, 1989; Lapsley, 1989). Menurut para ilmuwan ini, ternyata terdapat banyak variasi individual. Hanya satu dari tiga orang remaja yang merupakan pemikir operasional formal dan banyak orang dewasa yang tidak pernah menjadi pemikir operasional formal. Pada remaja yang menjadi pemikir operasional formal, proses asimilasi (menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan yang ada) mendominasi perkembangan awal operasional formal dan dunia ini dilihat secara subyektif dan ideal.
Kognisi Sosial
Pemikiran remaja bersifat egosentris. Menurut Elkind, egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian yaitu penonton khayalan dan dongeng pribadi. Penonton khayalan (imaginary audience) merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana ia memikirkan dirinya sendiri. Perilaku-perilaku yang ditujukan untuk menarik perhatian, umum terjadi pada masa remaja. Hal ini mencerminkan egosentrisme pada remaja; timbul keinginan untuk diperhatikan dan terlihat. Dongeng pribadi (the personal fable) adalah bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaan unik seorang anak remaja. Rasa unik pribadi seorang anak remaja membuat ia merasa bahwa tidak seorang pun mengerti tentang perasaan mereka sebenarnya. Dongeng pribadi biasanya dapat ditemukan pada diari seorang anak remaja. Didalam dongeng pribadi itu terdapat pelampiasan seorang remaja yang merasa bahwa tidak seorang pun yang mengerti perasaannya. Misalnya, seorang remaja perempuan yang baru saja diputuskan oleh pacarnya dan ia merasa bahwa ibunya tidak mungkin mengerti perasaan yang sedang dialaminya ini. Oleh karenanya, ia mempertahankan rasa unik itu dengan menceburkan diri ke dalam fantasi yang dibuatnnya sendiri. David Elkind (1985) yakin bahwa egosentrisme remaja disebabkan oleh pemikiran operasional formal. Namun di lain pihak, egosentrisme remaja bukan suatu fenomena kognitif sama sekali. Mereka menganggap penonton khayalanlah yang disebabkan oleh kemampuan berpikir secara hipotetis (pemikiran operasional formal) dan kemampuan untuk melangkah ke luar diri sendiri serta mengantisipasi reaksi orang lain dalam keadaan khayalan (pengambilan perspektif) (Lapsley, 1990, 1991). Beberapa ahli perkembangan menyatakan bahwa egosentrisme dapat menjelaskan perilaku remaja yang nampak ceroboh; meliputi penggunaan obat-obatan, pemikiran bunuh diri, dll. Perilaku ini mungkin disebabkan karakteristik keunikan dan kekebalan egosentris. Prediksi anak remaja yang memiliki egosentris tinggi lebih rendah keakuratannya dibandingkan remaja beregosentris rendah.
Kita dapat melihat bahwa remaja tidak begitu saja menerima suatu informasi dari orang lain, melainkan mereka mencocokkan dengan informasi yang telah didapat sebelumnya. Remaja juga cenderung mendeteksi perubahan yang bersifat situasional baik pada diri sendiri maupun orang lain dibandingkan berpikir bahwa kita semua berperilaku secara konsisten. Selain itu, para remaja mulai mencari lebih dalam tentang siapa dirinya/orang lain baik dari hal yang kompleks bahkan sampai pada hal yang tersembunyi—yang membentuk kepribadian.
Pengambilan Keputusan
Masa remaja adalah masa dimana pengambilan keputusan meningkat (Quaderel, Fischoff & Davis, 1993). Remaja yang lebih tua lebih kompeten dalam mengambil keputusan dibandingkan dengan anak remaja yang lebih muda maupun anak-anak. Anak remaja yang lebih muda cenderung menghasilkan pilihan-pilihan, mengantisipasi akibat dari keputusan dan memastikan kredibilitas sumber-sumber. Namun remaja yang lebih muda kurang kompeten dalam mengambil keputusan dibandingkan remaja yang lebih tua. Transisi pengambilan keputusan muncul pada usia 11 sampai dengan 12 tahun  dan pada usia 15 hingga 16 tahun. Mampu mengambil keputusan tidak menjamin seseorang telah benar-benar dapat menentukan dan memutuskan putusan mana yang terbaik untuknya, melainkan luasnya pengalaman pribadi menjadi pengaruh yang besar dalam pengambilan keputusan. Sehingga, mempelajari cara remaja mengambil keputusan menjadi hal yang penting untuk diteliti. Salah satu strategi untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan pada remaja adalah dengan melibatkan remaja dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitan dengan keadaan yang meliputi masalah seperti seks, obat-obatan, dll.
Terkadang pengambilan keputusan remaja mungkin disalahkan ketika dalam realitas, hal ini merupakan orientasi masyarakat terhadap remaja dan kegagalannya. Tujuan masyarakat menyalahkan keputusan yang diambil oleh remaja adalah untuk memberi remaja pilihan yang lebih memadai. Penyebab seorang anak lebih memilih keputusan yang telah diambilnya  padahal keputusan itu akan membahayakan dirinya sendiri adalah hasil pemikiran yang mendalam tentang perhitungan untung rugi dalam situasi yang menekan yang menawarkan pilihan terbatas atau bahkan tidak adanya pilihan. Bila kita tidak menyukai pilihan yang dipilih seorang remaja, mungkin kita perlu memberinya pilihan yang lebih baik untuk dipilih (Daniel Keating).

Tugas Perkembangan Remaja


Tugas perkembangan ada dalam setiap tahap kehidupan. Tidak hanya untuk remaja namun dari kanak-kanak hingga dewasa lanjut.Setiap tahap kehidupan memang telah memiliki tugas perkembangannya masing-masing.
Tugas perkembangan remaja perlu diketahui para remaja agar dapat dijadikan acuan bagi masa berikutnya yaitu masa dewasa dan perlu diketahui pula oleh para orangtua dan guru agar dapat membimbing putra-putri/murid-muridnya untuk dapat melewati masa-masa “penuh badai” tersebut dengan baik .
Adapun tugas perkembangan remaja adalah sebagai berikut:
1) Menerima kondisi fisik dan menggunakan tubuh secara efektif.
Artinya seorang remaja bisa belajar menerima diri sendiri, bentuk tubuh, bentuk wajah, dll. Menggunakan tubuh secara efektif berarti juga harus bisa merawat dan menjaganya. Tidak melakukan perbuatan yang belum waktunya dilakukan seperti hubungan intim sebelum menikah. Mengapa? Karena remaja bisa terkena infeksi menular seksual atau terjadilah kehamilan yang tidak diinginkan. Selain itu, dampak psikologis yang ditimbulkan tidaklah sebentar, melainkan berkepanjangan.


2) Dapat menjalin hubungan yang baru dan lebih matang baik dengan teman sejenis atau lawan jenis.
Remaja diharapkan sudah mampu untuk menerima pertemanan atau persahabatan tidak hanya dari teman putra atau putri saja, tapi dari keduanya. Selain itu, kremaja diharapkan mampu untuk menjaga dan memelihara hubungan yang sudah terjalin dengan baik. Dengan kata lain, bila terjadi konflik atau masalah dalam hubungan yang sudah terjalin, maka mereka dapat menyelesaikannya dengan cara yang matang. Tidak dengan cara-cara agresif atau sebaliknya malah menjadi pasif, tapi menyelesaikan segala masalah dengan cara asertif dan berusaha mencari penyelesaian yang dapat menguntungkan semua pihak.
Perilaku Asertif: Cara berperilaku dimana perasaan atau pandangan diungkapkan secara terus terang tanpa melukai perasaan atau merendahkan harga diri orang lain.
3) Dapat menerima peran jenis kelamin.
Belajar menerima peran jenis kelamin artinya, belajar untuk menerima diri sebagai seorang perempuan atau laki-laki sesuai dengan jenis kelaminnya.
4) Mencapai kemandirian secara emosional, baik terhadap orangtua maupun terhadap orang dewasa lainnya.
Contoh dari mencapai kemandirian secara emosional antara lain, belajar menghargai perbedaan yang ada, seperti perbedaan pendapat serta mampu mengenali emosi dan menempatkannya secara tepat. alah yang ada tanpa perlu terlalu banyak bergantung pada orangtua.
5) Mempersiapkan karir dan kemandirian ekonomi.
Sebagian besar dari remaja ketika ditanya tentang karir jawabannya banyak banget sampai keliatan kalau sebenarnya mereka masih bingung. Agar mereka tidak bingung dan semakin mantap menentukan bidang apa yang nanti akan ditekuni, sebaiknya orangtua atau guru membantu mereka untuk mempersiapkan diri dari sekarang.
Cara mempersiapkannya dapat dilakukan dengan mengenali bakat, kemampuan dan minat yang dimiliki. Jika perlu lakukan konsultasi pada ahlinya, yaitu psikolog untuk mengetahui minat, bakat, dan kemampuan diri .
6) Mempersiapkan diri secara fisik dan psikis untuk menikah dan menghadapi kehidupan berumah tangga.
Makna lain dari mempersiapkan diri secara fisik dan psikis untuk menikah dan berumahtangga adalah mampu menjaga dan memelihara organ reproduksi dengan baik. Kemudian, memiliki rencana terhadap masa depan yang akan dijalani serta konsep sebuah keluarga yang ideal dan bertanggung jawab.
7) Mengembangkan keahlian intelektual dalam hidup bermasyarakat.
Dalam mengembangkan keahlian intelektual di masyarakat remaja diharapkan mampu mengembangkan keahlian yang dimiliki untuk mempersiapkan masa depan. Misalnya kalau ingin menjadi seorang dokter, mereka dapat memilih kuliah di fakultas kedokteran dan mengembangkan keahlian itu tidak hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk bakti pada masyarakat dan mengabdi pada Tuhan.
8)Mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab.
Mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab artinya remaja diharapkan sudah mampu untuk ikut aktif dalam kegiatan kemasyarakatan. Menunjukkan perhatian pada masalah sosial yang terjadi, dapat berlaku sesuai dengan norma yang ada dan mampu beradaptasi dengan lingkungan.
9) Memiliki nilai-nilai yang digunakan sebagai pedoman hidup.
Remaja diharapkan sudah memiliki nilai-nilai yang akan digunakan dalam kehidupan. Misalnya, tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah, tidak memakai obat-obat terlarang. Tidak melakukan perbuatan yang akan merugikan orang lain, atau melakukan perusakan lingkungan serta menanamkan rasa kasih sayang terhadap semua makhluk.
Berhasil atau tidaknya seorang remaja menjalani tugas perkembangan selain tergantung pada diri remaja itu sendiri,juga perlu didukung oleh orangtua dan guru sebagai pembimbing mereka.
by episentrum



Artikel Terkait:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar